Sabtu, 09 Oktober 2010

Threads of fate

Bab 1

Jerawat-jerawat kecil mulai tumbuh di kening Kia. Membuatnya semakin frustasi dengan semua masalah yang tengah dihadapinya. Nilai-nilai yang semakin lama semakin jeblok, uang saku bulan ini sudah hampir habis, majalah sekolah yang harus segera disiapkannya selaku ketua redaksi.

Kia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur mungil yang selalu dipakainya sejak kecil. Pemandangan langit-langit kamar yang tak pernah berubah sejak 10 tahun yang lalu ketika dia baru menepati kamar ini. Memandangnya membuat tenang. Mengingatkan akan masa lalu.

Perlahan dia memejamkan mata, melepaskan penat yang selama ini membebani kepalanya yang kecil. Sambil memeluk guling kesayangannya lambat laun Kia pun tertidur pulas dengan semua masalah yang belum terselesaikan.

Handphone Kia yang sedari tadi diam, berdering dengan suara nyaring. Seperti pemiliknya. “ Halo?” Kia mengangkatnya dengan malas-malasan. Paling-paling si Obi yang nelpon mau tanya tentang majalah sekolah.

“ Halo, Kia?? Gimana dengan majalah sekolahnya?? Dah siap belum??”

Tuh, kan. Si Obi. Obi lagi. Obi lagi.

“Aduh,, bentar deh, Bi.. Capek banget gue..”

“Lo, selalu kayak gini. Pusing Bi jadinya! Pokoknya Bi gak mau tau, lusa harus udah selesai!! Awas kalau gak!”

“Aduh, Bi.. Bi… Yah..”

Obi memutuskan teleponnya secara sepihak.

“ Huh!! Dasar seenaknya saja!!” gerutu Kia lalu segera mengeluarkan majalah sekolah yang akan disuntingnya dan memakinya sebentar sebelum benar-benar mengerjakan dengan setengah hati.

Sekitar dua jam kemudian, Kia sudah merasa mulai lelah. Toh, pekerjaannya sudah selesai. Kali ini dia benar-benar berencana untuk tidur. Dengan segera diambilnya guling dan bantal lalu memejamkan mata. Belum semenit dia tidur, dia terbangun teringat akan sesuatu. HP. Kali ini harus benar-benar mati agar tidak mengganggu lagi.

Diraihnya HP miliknya dan segera menekan tombol untuk men-turn off. Namun, sebelum itu terjadi HP-nya lebih dulu berbunyi nyaring. Sebuah senyum yang tadinya terkembang kini lenyap begitu saja tergantikan oleh makian pelan dan muka masam.

“Halo!!” diangkatnya telepon itu tanpa melihat siapa yang meneleponnya.

“Ehemm.. “ terdengar dehaman pelan di seberang sana.

“Eh,, Ronn.. Da perlu apa?” Kia baru sadar yang menelponnya adalah Roni, pacarnya.

“Lo kok malah nanya?? Lo lupa?”

Mampus gue! Gue lupa ada apa hari ini! Aduhhh, Kia coba Lo inget-inget, Lo janji apa sama Roni hari ini.. Batin Kia.

“Kia..? Lo masih di sana kan..?”

“E..Eh,,, Iya..”

Mampus gue!! Gue gak ingat apapun!!! Bisa ngamuk si Roni nih!!

“Ya udah deh kalo Lo lupa. Gak apa-apa. Lo cepet ke sekolah ya, Lo bilang pengen ngeliput Black Line. Ni lagi ngadain acara. Tapi yang ngadain cuma Divisi Seni. Gak pa-pa kan??” tanya Roni.

“Eh,, Iya.. Gak pa-pa.. Ya, udah gue kesana 15 menit lagi.” ujar Kia lega.

“Mau dijemput?” Roni menawarkan bantuan.

“Gak usah, gue lagi pengen naek motor sendiri..”

“Ya udah,, hati-hati ya.”

“Yo`i!!”

Klik! Kia menutup teleponnya. Menghembuskan napasnya, antara lega dan kecewa. Lega karena Roni tak marah padanya, kecewa karena ia tak punya waktu istirahat. Dengan kasar ditinjunya guling dan bantal kesayangannya lalu segera berganti pakaian. Tak lama kemudian ia pun segera melesat ke sekolah untuk meliput. Untuk terkhir kali dia menghembuskan napas panjang.

###

Kia memarkirkan motornya di halaman sekolah. Roni telah menunggu di depan gerbang dengan segera dihampirinya Roni dengan wajah ceria.

“Gak pa-pa nih, Ron?” tanya Kia sedikit khawatir. Roni mengancungkan jempolnya ke arah Kia.

“Tenang… Smua dah di atur, meski harus baku hantam sedikit sama ketua tadi.. Ni, buktinya..” Roni menunjuk bekas lupa di pelipisnya. Kia tampak agak sedikit kaget lalu langsung mengelus luka Roni. Roni hanya nyengir lebar.

“Maaf, gara-gara aku..”

“It`s OK,” potong Roni. “Tapi, ketua pengen ketemu kamu dulu.. Dia baik kok..”

“A..Tapi..”

Roni langsung membawa Kia menuju ketua Black Line tanpa menunggu jawaban. Kia langsung merasa seluruh persendiannya lemas. Padahal tujuannya kesini hanya ingin meliput kegiatan yang dilakukan Roni untuk dokumentasi pribadi. Eh, malah ketemu sama ketua preman.

“Tenang aja, dia baik kok..” hibur Roni ketika melihat wajah Kia pucat pasi. Mendengar hal itu, Kia makin merasa takut. Baik kok malah baku hantam sama anak buah sendiri.. ujar Kia dalam hati sambil menatap luka Roni. Sementara itu, Roni hanya tersenyum-senyum.

“Tuh, dia..!” ujar Roni.

Kia hanya dapat berdoa dalam hati semoga orang yang akan ditemuinya ini tidak segalak yang dipikirkannya. Sementara itu, Roni kian kuat untuk menariknya. Kia menutup matanya. Dia bukan cewek yang berani berhadapan dengan preman.

“Oh, ini toh orangnya!!” terdengar sebuah suara perempuan menyapanya.

Perlahan Kia membuka matanya. “Obi??” ujarnya terperangah. Orang yang berdiri di hadapannya benar-benar Obi. Hanya rambutnya yang berbeda, pendek.

Roni dan cewek itu berpandangan aneh lalu keduanya tertawa terbahak-bahak. Kia hanya bengong menonton mereka berdua. Sinting! Teriaknya dalam hati. Kia geram bukan main. Wajahnya merah bagaikan kepiting rebus.

“Nama gue Ezi. Wajar kalo lo gak tau gue. Gue anak kelas IPA Khusus..” orang yang mirip dengan Obi itu memperkenalkan namanya. Dia memamerkan giginya yang rapi dan putih. Kia tetap bengong.

“Mungkin lo tau saudara kembar gue. Namanya Obi. Dia jarang cerita ya?”

Ops! Barulah Kia mengerti dengan fenomena yang dilihatnya hari ini. Obi ternyata mempunyai saudara kembar! Obi tak pernah bercerita tentang saudara kembar. Tunggu dulu, Ezi masuk IPA kelas khusus?

Kia melihat Ezi dari atas sampai bawah. Dia mengerti sekarang mengapa Ezi masuk kelas IPA khusus. Kelas itu adalah tempat anak-anak yang paling bandel tetapi bisa di bilang mempunyai kemampuan di atas rata-rata.

“Gak usah kayak gitu kali deh liat nya.. Gue tau lo masih bingung. Oya, kenalin gue ketua Bi-el divisi kekerasan..”

Kia tergelak. Orang ini ketua divisi kekerasan?? Kia kembali mempelototi Ezi dari atas sampai bawah.

“Hahahahaha… Gue suka pacar lo!” ujarnya pada Roni.

Roni langsung waspada. Beregerak melindungi Kia.

“Bukan suka kayak gitu bego!” Ezi kesal. Lalu menepuk pundak Roni. “Gue pergi duluan ya.. Jaga dia baek-baek..” Roni mengangguk.

“Ketua yang baik.” kata Kia kagum.

“Sudah kubilang dia orang yang baik.” balas Roni sambil menatap punggung Ezi yang kian menghilang.

Entah mengapa ada sensasi aneh yang menjalar ke tubuhku. Hanya sesaat. Seperti tersengat. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Batin Kia. Lalu menarik tangan Roni untuk mengejar Ezi yang telah lebih dulu pergi.

“Luka kamu gak pa-pa, Ron?” tanya Kia.

“Gak pa-pa.. Setiap luka tu, bukti sejarah yang aku dapat selama hidup. Bener kan?” Roni mengerling pada Kia.

Kia mendengus mendengarnya namun sedetik kemudian dia tersenyum.

###

Mereka sampai dilapangan sekolah, lapangan itu dipenuhi berbagai anggota yang sedang melukis. Menurut perkataan Roni mereka akan mengadakan demo besar-besaran pada hari Minggu besok. Dan lukisan yang sedang di gambar itulah temanya. Katanya, semua divisi akan ikut. Kia segera mengeluarkan handycam dari tasnya dan segera meliput acara itu.

“Eh, Ron.. Ini kan divisi seni ngapain ketua divisi kekerasan hadir?”

“Gara-gara kemarin itu aku bilang kamu mau ngeliput. Awalnya si Ezi gak ngizinin. Kami sebagai divisi kekerasan juga berfungsi sebagai keamanan. Aku bersikeras kalau kamu gak bakal ngebocorin rahasia kami. Ezi gak terima. Jadi dia ngajak aku duel tadi. Kalau aku menang, kamu boleh ngeliput.

Awalnya aku gak mau terima tantangan itu. Aku gak suka duel sama cewek, Ki.. Walaupun dia ketua, aku tetap gak mau. Dia malah marah dan ngeluarin jurus karatenya. Aku nangkis aja. Sampai akhirnya dia berhasil ngelukain pelipis aku.. Aku gak nyangka. Emosi aku terpancing. Waktu dia mau nyerang kepala, aku tangkis tangannya dan kupegang kuat-kuat. Habis itu dia bilang lumayan. Ya udah kamu dibolehin ngeliput.” Jelas Roni panjang lebar. Kia hanya mengangguk dan meneruskan meliput.

Sementara itu, Ezi mengawasi mereka dari kejauhan.

“ Woi, bengong aja lo!” Hamid memukul pundak Ezi.

“Asem lo! Gak punya kerjaan ya! Ngapain lo disini! Gue sama Roni udah cukup buat keamanan tau! Gue gak butuh wakil gak becus kayak lo!”

“Duh, sedihnya gue.. Zi, lo keluar aja deh dari Bi-el.. Biar gue yang gantiin lo..”

“Pala lo peyang!!” Sebuah sepatu melayang ke kepala Hamid.

“Tega lo!” rutuk Hamid pada Ezi yang sudah lebih dulu mengeloyor pergi.

Roni berjalan disamping Kia untuk menemaninya. Sesekali ditatapnya gadis yang baru dipacarinya sebulan terakhir. Tidak banyak yang berubah. Hanya kecanggungan yang terkadang ditemuinya saat menemui Kia. Karena sejak kecil mereka berteman. Tujuannya berpacaran dengan Kia adalah hanya untuk melindungi guna memenuhi janjinya tiga tahun lalu.

Saat Kia mengalami tabrakan dengan mobil ketika pergi ke toko buku sendirian. Sampai tidak sadarkan diri untuk beberapa hari. Sejak saat itu, Roni berjanji untuk melindungi Kia. Untuk itu, dia dan Kia berpacaran saat kelas dua SMA. Semua untuk melindungi Kia.

Kia menoleh pada Roni. Dia merasa sedang diperhatikan.

“Kenapa, Ron?”

“E..eh.. Gak..” Roni langsung mengalikan perhatiannya. Malu. Kia hanya menanggapinya dengan senyum. Dia sudah maklum dengan hal itu. Kia mengarahkan handycam yang dipegangnya ke arah Roni. Melihat hal itu, Roni langsung berlari meninggalkan Kia yang langsung terkikik.

“ Duh, mesranya..” ujar Hamid dari belakang dan melingkarkan tangannya di leher Kia.

Kia melotot. Roni kembali dengan wajah merah padam. Tinjunya terkepal.

“Oh… Ok.. Ok.. Easy, men..” Hamid melepaskan tangannya.

“Gue aja gak pernah kayak gitu sama dia! Sialan lo!” maki Roni.

“Ya ampun.. Jadi selama ni kalian gak ngapa-ngapain? OMG..” ujar Hamid meniru Olga Syahputra.

“Sarap lo. Ayo, pergi. Sori ya, Ron, Kia..” Ujar Ezi tiba-tiba sambil menarik baju Hamid untuk pergi menjauh. Roni menatapnya kesal.

###

Kamis, 03 September 2009

something about world

Kadang ada kalanya..
Kita merasa kesepian di dunia yang penuh dengan keramaian..
Kadang ada kalanya juga..
Kita merasa sedih di dunia yang bahagia ini..

Tapi, pernah terpikir oleh kita..
Bahwa kita sebenarnya tidak kesepian dan sedih..
Kita terus mencari apa yang menjadi kebahagiaan kita..
Padahal kebahagiaan kita ada di depan mata kita sendiri.

Kamis, 06 Agustus 2009

sesuatu tentang dunia

Dunia ni kjam..
tapi, gak sekejam yang kamu bayangin..
Dunia ni baik..
Tapi, juga gak sebaik yang kamu banyangin...

kalau kita pernah bermimpi, maka mimpi itu akan menuntun kita untuk menemukan apa sebenarnya yang kita butuhkan..
walaupun mimpi itu tidak tercapai..
kita pasti menemukan sesuatu yang lebih baik daripada mimpi itu sendiri..

sesuatu yang terlihat kuat dari luar,,
pasti mempunyai sisi lemah yang berusaha disembunyikannya..

lebih baik menjadi orang yang pernah bermimpi daripada tidak punya mimpi..

Senin, 23 Maret 2009

Today in my school

Today I`m so happy....

But I don`t why.. It`s so funny right???
I laugh everytimt today....
My friend say...
"You crazy... You make me sick!!!" I just laugh and laugh...
Hahahahahahahahahahahahahahahahahahaha
They talk to much...
Make me laugh again..
Like raly and manda... They are soooo funny........

But if they angry......
I must run.....
They scared too...

Hahahahahahaha
Today I`m happy...
But I don`t know why...
Thank`s Allah....... You`re my only God.. ^_^
Alhamdulillah.......

Sabtu, 14 Maret 2009

ujian hari kelima

Pusinggggggggg.................
Bgt..................

Soalnya susah bgt seh........

Duh, nyampe puyeng belajar juga tetep susah......

Aih....

Sedih deh....................

Kamis, 12 Maret 2009

lirik lagu sheila on 7

Hey,Sephia
Malam ini ku takkan datang
Mencoba 'tuk berpaling sayang
Dari cintamu
Hey,Sephia
Malam ini ku takkan pulang
Tak usah kau mencari aku,demi cintamu

Hadapilah ini
Kisah kita takkan abadi

Korus;

S'lamat tidur kekasih gelap ku[ooo.....Sephia]
S'moga cepat kau lupakan aku
Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup untuk melupakanmu

S'lamat tidur kasih tak terungkap [ooo.....Sephia]
S'moga kau lupakan aku cepat
Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup untuk meninggalkanmu

Hey,Sephia
Jangan pernah panggil namaku
Bila kita bertemu lagi
Dilain hari
Hadapilah ini
Kisah kita takkan abadi

Layaknya gelap malam
Yang indah karna bintang
Woo... hoo... woo...
Woo... hoo... woo...

Layaknya sang penyair
Yang elok karna puisi
Woo... hoo... woo...
Woo... hoo... woo...

Ah... a... a... ah...
Bagiku kau bintang

Ah... a... a... ah...
Selayaknya puisi
Tetaplah di sini peri kecilku

Ah... a... a... ah...
Bagiku kau bintang

Ah... a... a... ah...
Selayaknya puisi
Temani aku selamanya
Selamanya...

Selamanya... selamanya...
Selamanya... selamanya...
Selamanya... selamanya...
Selamanya...


Seberapa pantaskah kau untuk ku tunggu,
Cukup indahkah dirimu untuk selalu ku nantikan
Mampukan kau hadir dalam setiap mimpi burukku
Mampukah kita bertahan di saat kita jauh..

Seberapa hebat kau 'tuk ku banggakan,
Cukup tangguhkah dirimu untuk selalu ku andalkan, ohhh...
Mampukan kau bertahan dengan hidupku yang malang, ohh..
Sanggupkah kau menyakinkan di saat aku bimbang..

CHORUS:
Celakanya...
Hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu,
Hanya kaulah yang benar-benar memahamiku,
Kau pergi dan hilang ke mana pun kau suka

Celakanya...
Hanya kaulah yang pantas untuk kubanggakan,
Hanya kaulah yang sanggup untuk aku andalkan,
Di antara pedih aku slalu menantimu..

Seberapa hebat kau 'tuk kubanggakan,
Cukup tangguhkah dirimu untuk selalu ku andalkan..ohh...
Mampukah kau bertahan dengan hidup ku yang malang oh...
Sanggupkah kau menyakinkan di saat aku bimbang..

BRIDGE:
Mungkin kini kau t'lah menghilang tanpa jejak,
Mengubur semua indah kenangan,
Tapi aku slalu menunggumu di sini,
Bila saja kau berubah pikiran ohhh...heyyy..heyy

Repeat CHORUS

Ohhh.... Ohhh... Ohhh... Ohhh... ...


Kita berlari dan teruskan bernyanyi
Kita buka lebar pelukan mentari
Bila ku terjatuh nanti, kau siap mengangkat aku lebih tinggi
Seperti pedih yang telah kita bagi
Layaknya luka yang telah terobati
Bila kita jatuh nanti... kita siap 'tuk melompat lebih tinggi
Bersama kita bagai hutan dan hujan
Aku ada kar'na engkau telah tercipta
Aah....... Aaaaah

Reff:
Kupetik bintang, untuk kau simpan
Cahayanya tenang, berikan kau perlindungan
Sebagai pengingat teman
Juga s'bagai jawaban
Semua tantangan

Chorus:
Sebelum waktu memisahkan detikku, detikmu
Sebelum dewasa, menua, memisahkan kita,
Degupan jantung kita akan s'lalu seirama
Bila kau rindu aku

(back to reff 2x)

Sahabat sejati

Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu
Di hari kita saling berbagi
Dengan kotak sejuta mimpi, aku datang menghampirimu
Kuperlihat semua hartaku

Kita s’lalu berpendapat, kita ini yang terhebat
Kesombongan di masa muda yang indah
Aku raja kaupun raja
Aku hitam kaupun hitam
Arti teman lebih dari sekedar materi

Pegang pundakku, jangan pernah lepaskan
Bila ku mulai lelah… lelah dan tak bersinar
Remas sayapku, jangan pernah lepaskan
Bila ku ingin terbang… terbang meninggalkanmu

Ku s’lalu membanggakanmu, kaupun s’lalu menyanjungku
Aku dan kamu darah abadi
Demi bermain bersama, kita duakan segalanya
Merdeka kita, kita merdeka

Tak pernah kita pikirkan
Ujung perjalanan ini
Tak usah kita pikirkan
Akhir perjalanan ini



ujian hari ketiga

hari ni.. Ujian mid hari ketiga..
Susah bgt...!!!! Palagi, Fisika..
Oh, my God!! Puyeng kepala q...
Sampe-sampe 1 kelas pada nyontek,
Hehehehehehehehehehehehehehehehehe............
Habis tu ujian fiqih ma geo..
Yah, sama aja sih susahnya...
Hehehehehehehe.....