Bab 1
Jerawat-jerawat kecil mulai tumbuh di kening Kia. Membuatnya semakin frustasi dengan semua masalah yang tengah dihadapinya. Nilai-nilai yang semakin lama semakin jeblok, uang saku bulan ini sudah hampir habis, majalah sekolah yang harus segera disiapkannya selaku ketua redaksi.
Kia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur mungil yang selalu dipakainya sejak kecil. Pemandangan langit-langit kamar yang tak pernah berubah sejak 10 tahun yang lalu ketika dia baru menepati kamar ini. Memandangnya membuat tenang. Mengingatkan akan masa lalu.
Perlahan dia memejamkan mata, melepaskan penat yang selama ini membebani kepalanya yang kecil. Sambil memeluk guling kesayangannya lambat laun Kia pun tertidur pulas dengan semua masalah yang belum terselesaikan.
Handphone Kia yang sedari tadi diam, berdering dengan suara nyaring. Seperti pemiliknya. “ Halo?” Kia mengangkatnya dengan malas-malasan. Paling-paling si Obi yang nelpon mau tanya tentang majalah sekolah.
“ Halo, Kia?? Gimana dengan majalah sekolahnya?? Dah siap belum??”
Tuh,
“Aduh,, bentar deh, Bi.. Capek banget gue..”
“Lo, selalu kayak gini. Pusing Bi jadinya! Pokoknya Bi gak mau tau, lusa harus udah selesai!! Awas kalau gak!”
“Aduh, Bi.. Bi… Yah..”
Obi memutuskan teleponnya secara sepihak.
“ Huh!! Dasar seenaknya saja!!” gerutu Kia lalu segera mengeluarkan majalah sekolah yang akan disuntingnya dan memakinya sebentar sebelum benar-benar mengerjakan dengan setengah hati.
Sekitar dua jam kemudian, Kia sudah merasa mulai lelah. Toh, pekerjaannya sudah selesai. Kali ini dia benar-benar berencana untuk tidur. Dengan segera diambilnya guling dan bantal lalu memejamkan mata. Belum semenit dia tidur, dia terbangun teringat akan sesuatu. HP. Kali ini harus benar-benar mati agar tidak mengganggu lagi.
Diraihnya HP miliknya dan segera menekan tombol untuk men-turn off. Namun, sebelum itu terjadi HP-nya lebih dulu berbunyi nyaring. Sebuah senyum yang tadinya terkembang kini lenyap begitu saja tergantikan oleh makian pelan dan muka masam.
“Halo!!” diangkatnya telepon itu tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
“Ehemm.. “ terdengar dehaman pelan di seberang
“Eh,, Ronn.. Da perlu apa?” Kia baru sadar yang menelponnya adalah Roni, pacarnya.
“Lo kok malah nanya?? Lo lupa?”
Mampus gue! Gue lupa ada apa hari ini! Aduhhh, Kia coba Lo inget-inget, Lo janji apa sama Roni hari ini.. Batin Kia.
“Kia..? Lo masih di
“E..Eh,,, Iya..”
Mampus gue!! Gue gak ingat apapun!!! Bisa ngamuk si Roni nih!!
“Ya udah deh kalo Lo lupa. Gak apa-apa. Lo cepet ke sekolah ya, Lo bilang pengen ngeliput Black Line. Ni lagi ngadain acara. Tapi yang ngadain cuma Divisi Seni. Gak pa-pa
“Eh,, Iya.. Gak pa-pa.. Ya, udah gue kesana 15 menit lagi.” ujar Kia lega.
“Mau dijemput?” Roni menawarkan bantuan.
“Gak usah, gue lagi pengen naek motor sendiri..”
“Ya udah,, hati-hati ya.”
“Yo`i!!”
Klik! Kia menutup teleponnya. Menghembuskan napasnya, antara lega dan kecewa. Lega karena Roni tak marah padanya, kecewa karena ia tak punya waktu istirahat. Dengan kasar ditinjunya guling dan bantal kesayangannya lalu segera berganti pakaian. Tak lama kemudian ia pun segera melesat ke sekolah untuk meliput. Untuk terkhir kali dia menghembuskan napas panjang.
###
Kia memarkirkan motornya di halaman sekolah. Roni telah menunggu di depan gerbang dengan segera dihampirinya Roni dengan wajah ceria.
“Gak pa-pa nih, Ron?” tanya Kia sedikit khawatir. Roni mengancungkan jempolnya ke arah Kia.
“Tenang… Smua dah di atur, meski harus
“Maaf, gara-gara aku..”
“It`s OK,” potong Roni. “Tapi, ketua pengen ketemu kamu dulu.. Dia baik kok..”
“A..Tapi..”
Roni langsung membawa Kia menuju ketua Black Line tanpa menunggu jawaban. Kia langsung merasa seluruh persendiannya lemas. Padahal tujuannya kesini hanya ingin meliput kegiatan yang dilakukan Roni untuk dokumentasi pribadi. Eh, malah ketemu sama ketua preman.
“Tenang aja, dia baik kok..” hibur Roni ketika melihat wajah Kia pucat pasi. Mendengar hal itu, Kia makin merasa takut. Baik kok malah
“Tuh, dia..!” ujar Roni.
Kia hanya dapat berdoa dalam hati semoga orang yang akan ditemuinya ini tidak segalak yang dipikirkannya. Sementara itu, Roni kian kuat untuk menariknya. Kia menutup matanya. Dia bukan cewek yang berani berhadapan dengan preman.
“Oh, ini toh orangnya!!” terdengar sebuah suara perempuan menyapanya.
Perlahan Kia membuka matanya. “Obi??” ujarnya terperangah. Orang yang berdiri di hadapannya benar-benar Obi. Hanya rambutnya yang berbeda, pendek.
Roni dan cewek itu berpandangan aneh lalu keduanya tertawa terbahak-bahak. Kia hanya bengong menonton mereka berdua. Sinting! Teriaknya dalam hati. Kia geram bukan main. Wajahnya merah bagaikan kepiting rebus.
“Nama gue Ezi. Wajar kalo lo gak tau gue. Gue anak kelas IPA Khusus..” orang yang mirip dengan Obi itu memperkenalkan namanya. Dia memamerkan giginya yang rapi dan putih. Kia tetap bengong.
“Mungkin lo tau saudara kembar gue. Namanya Obi. Dia jarang cerita ya?”
Ops! Barulah Kia mengerti dengan fenomena yang dilihatnya hari ini. Obi ternyata mempunyai saudara kembar! Obi tak pernah bercerita tentang saudara kembar. Tunggu dulu, Ezi masuk IPA kelas khusus?
Kia melihat Ezi dari atas sampai bawah. Dia mengerti sekarang mengapa Ezi masuk kelas IPA khusus. Kelas itu adalah tempat anak-anak yang paling bandel tetapi bisa di bilang mempunyai kemampuan di atas rata-rata.
“Gak usah kayak gitu kali deh liat nya.. Gue tau lo masih bingung. Oya, kenalin gue ketua Bi-el divisi kekerasan..”
Kia tergelak. Orang ini ketua divisi kekerasan?? Kia kembali mempelototi Ezi dari atas sampai bawah.
“Hahahahaha… Gue suka pacar lo!” ujarnya pada Roni.
Roni langsung waspada. Beregerak melindungi Kia.
“Bukan suka kayak gitu bego!” Ezi kesal. Lalu menepuk pundak Roni. “Gue pergi duluan ya.. Jaga dia baek-baek..” Roni mengangguk.
“Ketua yang baik.” kata Kia kagum.
“Sudah kubilang dia orang yang baik.” balas Roni sambil menatap punggung Ezi yang kian menghilang.
Entah mengapa ada sensasi aneh yang menjalar ke tubuhku. Hanya sesaat. Seperti tersengat. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Batin Kia. Lalu menarik tangan Roni untuk mengejar Ezi yang telah lebih dulu pergi.
“Luka kamu gak pa-pa, Ron?” tanya Kia.
“Gak pa-pa.. Setiap luka tu, bukti sejarah yang aku dapat selama hidup. Bener
Kia mendengus mendengarnya namun sedetik kemudian dia tersenyum.
###
Mereka sampai dilapangan sekolah, lapangan itu dipenuhi berbagai anggota yang sedang melukis. Menurut perkataan Roni mereka akan mengadakan demo besar-besaran pada hari Minggu besok. Dan lukisan yang sedang di gambar itulah temanya. Katanya, semua divisi akan ikut. Kia segera mengeluarkan handycam dari tasnya dan segera meliput acara itu.
“Eh, Ron.. Ini
“Gara-gara kemarin itu aku bilang kamu mau ngeliput. Awalnya si Ezi gak ngizinin. Kami sebagai divisi kekerasan juga berfungsi sebagai keamanan. Aku bersikeras kalau kamu gak bakal ngebocorin rahasia kami. Ezi gak terima. Jadi dia ngajak aku duel tadi. Kalau aku menang, kamu boleh ngeliput.
Awalnya aku gak mau terima tantangan itu. Aku gak suka duel sama cewek, Ki.. Walaupun dia ketua, aku tetap gak mau. Dia malah marah dan ngeluarin jurus karatenya. Aku nangkis aja. Sampai akhirnya dia berhasil ngelukain pelipis aku.. Aku gak nyangka. Emosi aku terpancing. Waktu dia mau nyerang kepala, aku tangkis tangannya dan kupegang kuat-kuat. Habis itu dia bilang lumayan. Ya udah kamu dibolehin ngeliput.” Jelas Roni panjang lebar. Kia hanya mengangguk dan meneruskan meliput.
Sementara itu, Ezi mengawasi mereka dari kejauhan.
“ Woi, bengong aja lo!” Hamid memukul pundak Ezi.
“Asem lo! Gak punya kerjaan ya! Ngapain lo disini! Gue sama Roni udah cukup buat keamanan tau! Gue gak butuh wakil gak becus kayak lo!”
“Duh, sedihnya gue.. Zi, lo keluar aja deh dari Bi-el.. Biar gue yang gantiin lo..”
“Pala lo peyang!!” Sebuah sepatu melayang ke kepala Hamid.
“Tega lo!” rutuk Hamid pada Ezi yang sudah lebih dulu mengeloyor pergi.
Roni berjalan disamping Kia untuk menemaninya. Sesekali ditatapnya gadis yang baru dipacarinya sebulan terakhir. Tidak banyak yang berubah. Hanya kecanggungan yang terkadang ditemuinya saat menemui Kia. Karena sejak kecil mereka berteman. Tujuannya berpacaran dengan Kia adalah hanya untuk melindungi guna memenuhi janjinya tiga tahun lalu.
Saat Kia mengalami tabrakan dengan mobil ketika pergi ke toko buku sendirian. Sampai tidak sadarkan diri untuk beberapa hari. Sejak saat itu, Roni berjanji untuk melindungi Kia. Untuk itu, dia dan Kia berpacaran saat kelas dua SMA. Semua untuk melindungi Kia.
Kia menoleh pada Roni. Dia merasa sedang diperhatikan.
“Kenapa, Ron?”
“E..eh.. Gak..” Roni langsung mengalikan perhatiannya. Malu. Kia hanya menanggapinya dengan senyum. Dia sudah maklum dengan hal itu. Kia mengarahkan handycam yang dipegangnya ke arah Roni. Melihat hal itu, Roni langsung berlari meninggalkan Kia yang langsung terkikik.
“ Duh, mesranya..” ujar Hamid dari belakang dan melingkarkan tangannya di leher Kia.
Kia melotot. Roni kembali dengan wajah merah padam. Tinjunya terkepal.
“Oh… Ok.. Ok.. Easy, men..” Hamid melepaskan tangannya.
“Gue aja gak pernah kayak gitu sama dia! Sialan lo!” maki Roni.
“Ya ampun.. Jadi selama ni kalian gak ngapa-ngapain? OMG..” ujar Hamid meniru Olga Syahputra.
“Sarap lo. Ayo, pergi. Sori ya, Ron, Kia..” Ujar Ezi tiba-tiba sambil menarik baju Hamid untuk pergi menjauh. Roni menatapnya kesal.
###